
Sudah terbit
dengan spesifikasi buku:
ukuran : 29,7 x 21cm
jumlah halaman : 74 halaman
kertas cover : ivory 350 gram
kertas isi : art paper 120 gram
cetak : full color
Dalam kakawin Smaradhahana yang ditulis Mpu Dharmaja pada abad 11 M, disebutkan bahwa raja Kediri yang bernama Kameswara (1182 – 1191 M), mempunyai permaisuri Sri Kiranaratu putri Jenggala. Pasangan Kameswara dan Kiranaratu itulah yang diduga menjadi awal mula lahirnya cerita Panji. Kameswara kemudian dikenal dengan nama Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun, sedangkan Kiranaratu kemudian dikenal dengan nama Dewi Candrakirana.
Kisah cinta Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana digemari masyarakat mulai dari jaman Kameswara (Kediri), jaman Ken Arok (Tumapel) dan mencapai puncak perkembangannya pada Jaman Hayam Wuruk (Majapahit)
Mencari Selendang Pelangi terinspirasi dari kisah cinta abadi yang mampu menembus lorong waktu lebih dari empat abad. Walaupun nama Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana tidak banyak dikenal lagi, keabadian cinta mereka masih dirasakan dan dikisahkan pada tokoh-tokoh lain hingga saat ini. Karena sejatinya cinta mereka tidak semata-mata hubungan antara laki-laki dan perempuan, melainkan seperti halnya dewa dan dewi, lingga dan yoni, hubungan yang menghidupkan, hubungan antara bumi yang menumbuhkan tunas dan langit yang menurunkan hujan.
Maka ketika cinta terkoyakkarena rongrongan dari dalam, yang dilakukan oleh Galuh Ajeng dan Ibunya, serta serangan dari luar yang dilakukan Klana Sewandana, yang mengakibatkan Panji Asmarabangun dan Candrakirana berpisah, semesta pun berduka, rakyat Kediri dan Jenggala prihatin. Mereka semua merasakan betapa tidak enaknya hidup tanpa cinta. Karena yang muncul kemudian adalah rasa iri, dengki, benci dan perang.
Oleh karenanya, mereka dengan cara dan pemahamannya masing-masing ingin mendapatkan cinta yang hilang. Seperti yang dijalani oleh Klana Sewandana, Dewi Candrakirana dan Panji Asmarabangun
Cinta itu sempurna adanya, dan abadi sifatnya, anugerah dari Hyang Maha Cinta. Maka ketika manusia yang lemah, tidak sempurna, berusaha menghidupi cinta yang sempurna, sudah selayaknya akan mengalami jatuh bangun. Oleh karenanya dibutuhkan upaya bersama bahu-membahu antara sesama ciptaan (rakyat Jenggala dan Kediri), pejuang cinta damai (Liman Sandi), bisikan Ilahi (Bathara Narada) dan restu semesta (Bango Tongtong) untuk menghidupi cinta yang abadi tersebut.
Kisah cinta Panji dan Candrakirana yang berliku kadang bertemu, sebentar kemudian berpisah, bertemu kembali dan berpisah lagi, adalah gambaran jatuh bangunnya manusia dalam menghidupi dan mempertahankan cinta.
Hingga sekarang, para pejuang cinta damai, bisikan Illahi serta restu semesta tidak pernah berhenti mendorong setiap hati untuk mempertahankan serta menghidupi cinta, agar dunia, rumah kita bersama nyaman untuk tinggali dan indah untuk berkarya, seindah Pelangi.
Selamat mengapresiasi
Herjaka HS
Bagi yang berminat dapat dibeli di shopee, tokopedia atau di nomor ini : whatsApp 081328859356
contoh cetak halaman isi:



No Comments